Thursday, 31 January 2013

Dia Datang


dia datang. awalnya biasa saja, katamu. berkenalan, dekat, lalu entah bagaimana siklus interaksi dua manusia itu berjalan. aku percaya karena memang sejak dulu ucapmu selalu berhasil meyakinkanku. mungkin saja waktu memang bisa mengukuhkan atau merubuhkan pondasi sekuat dan sehebat apapun. bukan jaminan lama kita pernah bersama, atau barangkali, tak bisa lagi kujaminkan rasa yang dulu pernah kau bilang murni dan sebegitu dalamnya. kini yang ada, semuanya mulai sirna …
            kau mulai menjauh, banyak alasan. katamu sedang banyak pekerjaan. dan kataku aku sudah biasa mengiyakan. wajar.
katamu di luar banyak yang harus kau selesaikan, hingga janji-janji itu mulai tak kau anggap sacral. sedetik kau bilang iya, sedetik kemudian kau melupakannya. maaf katamu, dan sekian maaf yang kuberikan ternyata belum mampu menyadarkanmu bahwa aku merasakan kejanggalan itu. alasan-alasan itu … jarak itu … rindu yang kusimpan itu … mulai berbaur jadi ketakutan untukmu.
dia datang. kalau Tuhan dan banyak orang selalu bilang banyak hikmah dan kejutan dalam kehidupan, mungkin seharusnya aku bersyukur karena lingkaran asumsi ini makin melebar. tapi aku tak tahu, kehadirannya mengajarkanku kebahagiaan atau kesakitan. tapi aku tak tahu, dia harus kujadikan alasan kekacauan atau datangnya memang membawa pesan. entahlah ...
            aku tak tahu seberapa dalam rasa yang kusimpan. aku tak tahu seberapa besar pula rasa yang kau agungkan, sejak pertama mengenal … jatuh cinta, dekat, dan ucapkan banyak sanjungan. tapi semua itu kini terasa janggal.
tapi lagi-lagi, kebodohanku yang menganggap semuanya tak lebih dari dugaan. mungkin karena cinta yang kusimpan berlebihan.
mungkin aku yang harus lebih dulu sadar.
***
minggu ini kau semakin jarang mengirimiku pesan, aku tak hendak mengeluh tentang perhatianmu yang mulai berkurang. hatiku berkata ini masih wajar, dua orang yang terus kumandangkan kalimat-pujian tiba-tiba merasa penat dengan rutinitas yang itu-itu saja, bertemu dengan orang itu saja, dan interaksi yang dibangun kadang memang butuh situasi yang membuat renggang.tiba-tiba bosan.
            tapi kau semakin jauh kugapai.
            tidak apa-apa, itu katamu. hingga habis ladang sabarku untuk meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya memang baik-baik saja, meyakinkan diri sendiri bahwa diri sendiri yang gila itu hal yang tak biasa? dan aku terkapar pada titik persangkaan akhir.
aku melihatmu bersamanya. semakin sering, dan melihatmu berbohong, kebahagiaan itu mulai mengering.
aku tak tahu mana yang lebih dalam, atau mana yang lebih dangkal. perasaan cintaku yang sudah sejak dulu, dimakan lalu lalang masalah, kecurigaan, dan berbagai macam kejadian. atau dia yang baru saja datang, selintas saja, namun hebatnya bisa sebegitu cepat melepaskan hati yang telah lama bersembunyi dalam satu sangkar.
aku tak tahu mana yang lebih dalam, atau mana yang lebih dangkal. dia yang baru saja datang, atau aku yang telah lama tinggal. aku terisak, sedang kau hanya tergagap diam. dalam lari dan tangisku menjauhimu, kudoakan kau tahu dimana jawaban dari pertanyaan yang baru saja kupikirkan.
            semoga kau sadar. 

Laki-laki dan Wanita


kalau beda laki-laki dan perempuan digambarkan atau disebutkan dalam hal kelamin. tentu saja itu benar, dan saya tidak akan menyebutkan dan menambah panjang perdebatan. keseluruhan opini yang dijabarkan selalu punya keakuratan masing-masing tentang alat kelamin, karena memang itu alat reproduksi yang dimiliki tiap penciptaann dari kita. jadi jelas itu merupakan ciri satu sama lain, perempuan dengan ini, dan laki-laki dengan itu. 
kalau beda laki-laki dan perempuan dikaitkan dengan rambut. saya juga masih menyetujuinya, panjang dan pendek –kecuali di-hijabi- lihat dan amati saja. banyak pihak yang beropini, rambut adalah mahkota wanita. jadi fine, itu ciri wanita. yang panjang dan tergerai indah, dirawat sedemikian rupa karena itulah salah satu mahkota yang dia punya. belum ada saya mendengar dimanapun, bahkan celetukan tidak sengaja pun belum pernah ada, kalau: “rambut itu mahkota pria”. 
jadi jelas, yang panjang milik siapa yang pendek milik siapa. semua boleh punya suara tentunya. 
kalau beda laki-laki dan perempuan dilihat dari gaya berpakaian. penampilan. ini juga masih bisa diterima, hal paling wajar dan paling mafhum yang bisa diterka. laki-laki punya batas aurat tersendiri dan perempuan sudah tentu iya. ada model masing-masing pula. Tanya saja sejak jaman Rasul dahulu kala, mereka, laki-laki dan perempuan punya ciri khas beda dalam hal pakaian. jadi jelas, yang pakai mukena itu siapa, yang pakai peci itu siapa. 
kalau beda laki-laki dan perempuan dikaitkan soal urusan masak-memasak, sibuk di dapur, boleh bekerja, belanja, manjat genteng, merias diri, dan menggosip. ini baru saya tidak terima. apa yang menjadi dasar opini ini? sedang semua hal di atas tadi selalu punya dasar jelas. ada klasifikasi umum dan khusus di dalamnya. tapi kalau urusan ini, jelas tidak valid dan konkrit bukan?
sekarang banyak laki-laki yang jadi pesolek, sibuk berbelanja kesana kemari, gemar dan pandai memasak, hobi berkaca pula. jadi apakah mereka bisa diklasifikasikan wanita? belum tentu. dan apakah wanita yang bisa membereskan segala macam tetek bengek urusan manjat genteng, benerin saluran air, jadi montir bengkel, itu juga harus berganti nama dan sebutan jadi “pria?”
bahkan sekarang ada klasifikasi khusus buat hal-hal lain yang menyangkut laki-laki dan perempuan. motor, mainan, hobi, dan sebagainya. itu jelas pembedaan tidak fair. siapa bilang anak cewek nggak boleh naik motor gede? dan siapa bilang motor matic itu motor cewek? siapa bilang boneka cuman boleh buat anak cowok? dan mobil-mobilan/motor-motoran cuman buat cowok? sebetulnya masih banyak lagi. dan pasti kalian lebih ngerti apa saja macamnya. seperti bawa tissue kemana-mana, bawa sisir, kaca, dan sebagainya. 
nah, silahkan diterka sendiri. perbedaan selalu punya keseimbangan. wanita dan pria punya ciri khas yang melekat secara umum khusus, dan selebihnya hanya opini public saja. membuat argument tidak berdasar yang malah membuat perbedaan makin tidak mengenakkan.
diskriminasi gender ini namanya.

Sunday, 27 January 2013

Happy fifteen

Aku tak pandai mempersembahkan manis dalam nyata | sekedar kata-pun mungkin tak pula menggenapinya.
Tapi rangkaian ini semoga menjadi doa pengukuh jiwa | aku, kamu, kita
Debit jam akan terus membumbung di angkasa | Misteri itu akan dengan sendirinya kau terka.
Makin hari aku makin tak bisa apa | memandangimu dari jauh seolah sekat menghalau rasa
Bukan seandainya, seharusnya, atau sebenarnya | tapi banyak yang terlewat tanpa aba, tanpa karsa.
Lima belas tahun bukan waktu lama | bukan pula sekejap menikmati tumbuhmu, tawamu, marahmu, ikatan saudara
Detik jarum akan terus bergerak | umurku, umurmu akan terus merangkak
Belajar menerka satu persatu cuaca | langit membukakan untukmu cakrawala. Lebih luas dan tiada terkira
Biar kau nikmati sendiri luapan bahagia ini | sembari terus berdzikir indah mungkin akan segera berganti.
Seperti kedewasaan yang Tuhan berikan | Selamat menikmati rentetan ketidakpastian.
Jalan yang kau tempuh baru separuh bagian … Happy fifteen @safira Fahma

Friday, 25 January 2013

Monolog



"Apa yang kau tahu tentang dunia? Kehidupan nyata?" Suara itu memantul dari cermin besar di hadapanku. aku mengerutkan kening, bingung. 
"aku tau seluruh sejarah kota dunia. Aku tau nama seluruh tokoh dunia, aku tau segalanya. Tanyakan saja kalau tak percaya" kilahku sinis. 
"Kau tahu sendiri, menjadi penemu, atau hanya sekedar membaca alias mulut ketiga?" suara itu muncul lagi, lebih keras.
"membaca-tentunya, seluruh hidupku kuhabiskan penuh untuk membaca. Mana mungkin aku mengalaminya. Aku ini manusia modern. aku terlahir setelah penjajahan" . aku tersenyum kecut, tidak terima dilecegkan. 
Apalagi yang kau tau? 
"Aku tau seluruh bahasa di dunia, test saja kalau tak percaya. Aku sanggup kau Tanya detik ini juga" alis mataku terangkat sebelah, melengus panjang.
Kau yang merumuskannya, atau hanya jadi pengikut dan mempelajari dari seorang perantara? suara itu makin sinis menimpaliku pertanyaan demi pertanyaan.
"perantara tentunya, mana mungkin aku yang membuatnya. Kau ini semakin aneh saja". Aku tertawa, miris. 
Apalagi yang membuatmu merasa elok dan layak sombong disini?

aku tampan, aku kaya, aku pandai, dan sebentar lagi aku akan punya segalanya." Tawaku makin menggema, dan suara tanpa rupa itu tetap terdengar angkuh. Dagu terangkat, badan tegap, dan mata awas. Tak sedetikpun aku merasa jadi anak bodoh diantara yang lain.

“sampai kapan kau akan hidup memang, ha? Besok, lusa, tahun depan?

“Aku mana tahu urusan itu. Kau ini makin aneh saja. Pertanyaanmu tak masuk akal.” Tiba-tiba aku terdiam, menelan liur. dadaku berdegup cepat seiring kalimatku yang menjawab ketidaktahuanku.



Katamu kau tahu segalanya, begitu saja tak bisa. Tentu saja kita hidup sampai mati. Aku kan tidak Tanya berapa lama. 
"Ah, pertanyaan se-sepele itu saja kau tak bisa menjawab. Masih saja angkuh dan keras kepala. " suara itu perlahan pergi, tertawa puas.

Jika suatu hari nanti



Jika suatu hari nanti kita dipertemukan lagi | aku hanya akan berucap terima kasih.
Terima kasih telah membuat pikiran-ku tak berhenti bekerja. hatiku tak berhenti mencerna | berulang jatuh hingga berulang memikirkannya.
Hati yang berubah | cinta, benci, kemudian biasa. Itu keniscayaan rasa.  
Aku hanya akan mengingatmu karena inilah eksistensi kepala | mengingat luka, dan menghapus sedikit bahagia. Itu hikmah berharga.
Jika suatu hari nanti kita dipertemukan lagi | aku hanya akan berucap ini.
Luka dan segala muara rasa adalah petunjuk kehidupan, pengingat kekhilafan| dan lewatmu-mataku dibukakan.